
Selamat pagi jenderal,
Sungguh sangat berbeda dengan bayangan saya Jenderal ! Selama ini saya membayangkan Lebanon adalah negera yang kumuh, hancur karena perang, miskin dan berbagai bayangan buruk lainnya. Ternyata negeri ini begitu maju peradabannya, rumah penduduknya besar- besar dan mobil-mobil mewah buatan Eropa yang terawat dengan baik bertebaran di depan rumah mereka.
Apalagi negara tetangga mereka Israel. Begitu ada bunyi dentuman ledakan, baik itu latihan peluncuran rudal Prancis, atau pun bunyi dinamit pemecah batu, langsung saja pesawat tanpa awak mereka mengadakan manuver di atas lokasi ledakan. Mobil-mobil patroli negara Eropa sudah dilengkapi dengan "jammer" sehingga ancaman ledakan bom yang di kendalikan dengan handphone dapat diminimalisir, kejadian ini pernah terjadi september tahun lalu dimana 6 orang tentara Spanyol tewas akibat Road Side Bomb dengan pengendali hand phone. Harga jammer ini menurut informasi hampir sama dengan harga mobil, sektar 100 jutaan rupiah.
Sementara jammer kontingen indonesia cukup dengan Bismillah........
Harga-harga barang pun bukan standar negara Asia yang terkenal murah, tapi sudah dengan bandrol Euro dan Dollar.
Internet hanya tesedia 3 koneksi, sehingga saling berebut, dengan menggunakan unlimited connection, sebulan di bandrol harga 50 dollar ! Fantastic, utk bulan pertama masih cukup berat bagi ukuran kapten dari Klampok :)
Informasi lain, The libanesse lady is so very very beautiful Sir, istighfar every day :)

7 komentar:
Kapten Krisna, terima kasih telah mengirim surat dan berbagi pengalaman dengan kami di home base. Terima kasih juga sudah berkorban 50 dolar untuk langganan internet, Insya Allah akan jadi amal jariah karena setelah surat ini saya masukkan ke Sisfo Badiklat pengalaman yang Anda bagikan menjadi sangat bermanfaat bagi banyak orang.
Ngomong-ngomong soal peradaban, tentu kita ingat bahwat bahwa Beirut (kota terbesar di Lebanon) sudah menjadi salah satu pusat peradaban di kawasan Timur Tengah sejak 1500 tahun sebelum Masehi. Pengaruh kuat dari peradaban-peradaban Romawi dan Arab yang bergantian menguasai wilayah itu berpadu dengan budaya berbagai etnik setempat menjadikan Beirut salah satu kota budaya yang termashur di Laut Tengah bersama-sama dengan Damaskus di Syria, Jerusalem di Israel dan Alexandria di Mesir.
Namun di balik kesan sepintas yang digambarkan Kapten Krisna sebagai pendatang baru di sana sesungguhnya Lebanon menyimpan potensi konflik dan perpecahan yang sangat besar, baik yang berlatar belakang agama, etnik, maupun politik. Sudah sejak lama masyarakat Lebanon menderita dibawah bayang-bayang konflik yang tidak kunjung berakhir.
Mungkin perlu beberapa waktu lagi untuk Kapten Krisna mengenal Lebanon lebih jauh dan lebih mendalam, termasuk perlu mengunjungi berbagai pelosok negri, dan saya percaya bahwa pada saatnya nanti akan ada perubahan pandangan tentang Lebanon dibandingkan dengan “kesan pertama” tadi. Selamat bertugas Kapten Krisna, Kapten Andi, Kapten Haifal, Letkol Sarsito dan Kapten Harto !
Setelah membaca surat Kapten Klampok dari Libanon...banyak kesan yang muncul dari surat ini; heran, kagum dan khawatir campur aduk. Setidaknya saya bisa mendapat sedikit bayangan tugas Le Capitain au Liban.
Salut untuk Monsieur Klampok.....he enjoys observing some beautiful libanese girls...though he's in the middle of the war ;).... Salut Up!
Rasanya mak Plonk denger ada kabar personil pusbasa yang ngikut Mebebe ngirim kabar... terobosan baru... Terima Kasih.. Saya mengucapkan Selamat Bertugas. Semoga Kedamaian segera bergegas menghampiri Lebanon... eh, kalo mereka cepet damai lha ntar proyek Lebanon tutup dong...enake doanya yang mana ya? Bagaimana kalo Semoga Lebanon cepet Damai dan kita bisa berdinas disana dengan damai juga gitu...Amin.
Sukses selalu!
Hello Lamria, Hello Rois ! Happy to meet you again in the space ! Thanks for coming to my blog!
Selamat Pagi Jenderal,
Berita dari Naqoura. Ini bukan kado Tahun Baru yang tertunda. Seharusnya di awal di buka sesuatu yang indah. Hanya sepekan dari perayaan tahun baru, kami dikejutkan dengan peluncuran 4 Katyusha yang hanya berjarak 5 km dari home base Force Protection Coy. UN on alert, karena sampai sekarang belum diketahui siapa yang bertanggung jawab. Medan yang berat tak membuat sulit Israel untuk mencari titik kordinat peluncuran "4 kado" tahun baru tersebut, dalam hitungan menit, ke empat titik itu sudah mendapat balasan serupa. Namun sebelumnya sejumlah Apache menari di atas home base kami. Tentu bisa dibayangkan apa yang kami perbuat, kami pikirkan, dan kami takutkan. Semoga ini menjadi pelajaran berharga, dan saya bersyukur dapat bertemu kondisi buruk karena ini sangat jarang dijumpai.
Semoga tidak terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan terhadap Kontingen Garuda ! Ini siapa ya? Sarsito, Krisna, Andi, atau Hasibuan?
Siapa pun,terima kasih info nya dan selamat bertugas, manfaatkan tugas ini untuk menambah pengalaman dan memperluas wawasan! Salam!
Siap dari Kapten Krisna, mohon maaf lupa mencantumkan ID di komen sebelumnya,... Saya masih inget pesan Jenderal bahwa yang akan memenangkan pertempuran adalah pihak yang menguasai teknologi, dan itu terbukti di sini, betapa takjub saya melihat teknologi yang dimiliki Israel,... (Klampokidz)
Poskan Komentar