14 September 2008

BELA NEGARA CARA KOREA SELATAN


Korea Selatan adalah salah satu negara Asia yang aktif mengirimkan Perwira Angkatan Bersenjata mereka untuk mengikuti pendidikan Sesko Angkatan di Indonesia. Untuk Tahun Ajaran 2009 Korsel mengirimkan dua orang siswa mereka, dan seperti biasa para calon siswa Mancanegara terlebih dahulu harus mengikuti Kursus Bahasa Indonesia dan Kursus Persiapan Sesko di Pusdiklat Bahasa Badiklat Dephan. Itu sebabnya maka Korea Selatan tampak turut berpartisipasi ketika acara Malam Internasional digelar di Pusdiklat Bahasa pada tanggal 28 Agustus 2008 yang lalu. Seperti partisipan lainnya Korea Selatan pada kesempatan itu juga memperkenalkan aneka makanan minuman khas Korsel dan menampilkan sebuah atraksi budaya mereka. Agak berbeda dengan penampilan mereka pada tahun-tahun sebelumnya, pada tahun ini siswa Korsel membawa satu rombongan kesenian yang cukup besar dari kedutaan mereka. Sekitar 12 orang seniman (pria dan wanita) tampil di panggung memainkan semacam seni “Rampak Gendang” khas Korea. Pertunjukan yang didominasi oleh bunyi pukulan gendang yang menghentak-hentak itu memang cukup menarik, dinamis dan menggugah semangat, namun sebagian penonton yang kritis segera menyadari bahwa tujuan pertunjukan tersebut ternyata bukan hanya sekedar atraksi kesenian, melainkan juga merupakan sebuah kampanye nasional yang membawa pesan politik Korea Selatan ke dunia internasional. Sebagai latar belakang pertunjukan seni perkusi itu mereka menggelar lima buah spanduk vertikal yang bertuliskan huruf Korea yang tidak kita mengerti artinya, namun spaduk yang berada paling tengah memuat satu kalimat pendek berbahasa Inggris yang berbunyi: Dokdo is Korean Territory. Tentu saja kalimat itu segera mengingatkan kita kepada sengketa territorial antara Korea Selatan dengan negara tetangganya Jepang yang tidak kunjung selesai, memperebutkan gugusan pulau-pulau karang kecil (islet) yang terletak hampir tepat tengah-tengah di antara daratan utama kedua negara. Sangat jelas di sini bahwa siswa Korea Selatan dengan dukungan pihak kedutaan besar mereka telah memanfaatkan even malam internasional di Pusdiklat Bahasa untuk melakukan kegiatan kampanye bela negara. Kebetulan tahun ini Jepang tidak mengirimkan siswa, kalau ada tentu situasinya bisa berbeda, karena mungkin saja pihak siswa Jepang akan mengajukan protes. Jadi kejadian ini merupakan pengalaman berharga bagi Pusdiklat Bahasa (dan penyelenggara kegiatan serupa lainnya) agar di masa mendatang lebih teliti dalam mengecek persiapan penampilan siswa mancanegara. Namun sesungguhnya ada pelajaran lain yang sangat berharga bisa kita ambil dari kasus “kenakalan” siswa Korsel tersebut, yaitu bagaimana caranya pemerintah dan masyarakat Korsel mengimplementasikan politik pertahanan negara mereka secara kreatif dalam berbagai kesempatan. Memang ada mekanisme hukum atau mahkamah internasional yang secara formal akan bekerja untuk mengambil keputusan atas setiap sengketa, namun kenyataan besarnya dukungan dari seluruh warga negara pasti akan berpengaruh secara moral terhadap para hakim internasional dalam mengambil keputusan. Andaikan bentuk kampanye bela negara seperti cara Korsel malam itu kita gelorakan secara nasional beberapa waktu sebelum Mahkamah Internasional, maka belum tentu Pulau Sipadan lepas dengan begitu mudahnya dari wilayah Republik Indonesia. (AHB)

Catatan singkat tentang sengketa Pulau Dokdo

Pulau Dokdo mempunyai cukup banyak nama, antara lain
Liancort Rocks (Prancis), Olivutsa Rocks (Rusia),
Homet Rocks (Inggris) dan Takeshima/Matsushima (Jepang).


Letaknya memang hampir tepat ditengah-tengah
antara daratan utama kedua negara.





The Territorial Dispute Over Dokdo


Dokdo consists of two tiny rocky islets surrounded by 33 smaller rocks. The Dokdo islets are located about 215 kilometers off the eastern border of Korea and 90 kilometers east of South Korea's Ullung Island. The islets are an administative part of Ullung Island, North Kyongsang province, under the control of the Department of Ocean and Fisheries. Dokdo is also 157 kilometers northwest of Japan's Oki Islands. Its exact position is 37° 14' 45" N and 131° 52' 30" E. Of the two Islets that make up Dokdo, Suhdo (the West islet) is a steep-sided rock about 100 meters high, while Dongdo (the East islet) is 174 meters high. The approximate total surface area of Dokdo is 0.186 square kilometers (56 acres).

Both rocks, about 200 meters distant, are the remains of an ancient volcanic crater and are a refuge for Petrels and black-tailed gulls and several, partly endemic plants.
The government of the Republic of Korea (South Korea) designated Dokdo 'Natural Monument No. 336' in 1982. The government generally does not allow private individuals to visit the island, but as of early 2005, the Korean government is expected to further lift restrictions on civillian visits to the islets.
The first historical references to the island were cited in Korean documents, which make reference to them as a part of an independent island state known as "Usankuk" (Ullung Island) which was incorporated into the Korean Shilla Dynasty in 512 AD. Dokdo was first registered on charts in Europe after a French expedition under the leadership of Jean F.G. Perouse travelled to the East Sea/Sea of Japan in May of 1787, naming Ullung Island as "Dagelet", for a French astrologer, and Dokdo as "Boussole", after the name of one of the ships on the expedition. It was not until 1849, when French whale-hunters gave the name of their ship to the islets, that Dokdo began to be called "Liancourt Rocks". Other names have been ascribed to Dokdo ("Manalai and Olivutsa Rocks" by a Russian warship in 1854, and "Hornet Rocks" by the British, after one of their ships, the Hornet in 1855) but the name "Liancourt Rocks" is the only one of these names that is commonly seen on (usually older) English-language maps and sea charts published since 1910. The island was known to Koreans as "Kajido" (Sealion Island), "Sambongdo" (Three-Rock Island) and "Sokdo". Since at least 1881, the island has been called Dokdo by Koreans, meaning "Lonely Island" or "Rock Island", depending on the Sino-Korean character that one uses for the word, "Dok". Since at least 1905, the islets have been known by the Japanese name "Takeshima", but were previously known to Japanese as "Matsushima" or the "Rykano" islets. ( Baca selengkapnya di http://www.geocities.com/mlovmo/ )

33 komentar:

parlinblog mengatakan...

Kita mengakui bahwa siswa Korsel mempunyai rasa kebangsaan yang tinggi dan gigih dalam melakukan bela negaranya. Namun kurang tepat bila mereka melakukanya dipusdiklat bahasa, apalagi status mereka sebagai siswa pusdiklat bahasa dan nantinya akan menjadi siswa sesko, karena aksi mereka bisa saja mengundang reaksi dari negara lawanya dan menimbulkan efek yang negatif. Cara pemerintah dan masyarakat Korsel mengimplementasikan politik pertahanan negara mereka secara kreatif dalam berbagai kesempatan seperti yang dilakukan oleh siswanya di Pusdiklat bahasa adalah sah-sah saja, namun hal tersebut belum tentu akan memberikan hasil bila kita melakukan hal yang sama untuk sipadan dan ligitan. Aksi mereka hanya sebatas demo dan kampanye mahasiswa. Namun apa yang dilakukan Malaysia adalah mempengaruhi langsung warga pulau Sipadan dan Ligitan dengan memberikan kesejahteraan selama bertahun-tahun. Bahkan tanpa kita sadari sudah menjadi program dari National Interest Malaysia beberapa tahun yang silam karena akan merubah batas laut dan memungkinkan tindakan mereka lebih lanjut. Keberhasilan Malaysia di Mahkamah International karena adanya dukungan negara persemakmuran dan sekutunya.

Letkol Parlindungan/suspimjemen III

Agus Listyo mengatakan...

Acara malam Internasional bagi siswa manca negara dalam rangka pertukaran pelajar militer merupakan wujud persahabatan antar negara, seperti yang telah disampaikan bahwa acara dari siswa Korsel dan tim keseniannya telah mempertunjukkan sebuah pesan negaranya yg sedang bersengketa gd negara Jepang, yaitu tentang pulau DOGDO, saya percaya bahwa ini karena kurang pengecekan dari staf penyelenggara malam Internasional tersebut, sesuai dengan acara yang diselenggarakan yaitu malam persahabatan antar negara dan Indonesia sebagai tuan rumah, seharusnya acara yang dilakukan oleh siswa Korsel dg tim keseniannya seharusnya tidak boleh terjadi, apabila ada pengecekan terlebih dahulu, semoga pengalaman ini merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua

Anonim mengatakan...

Masalah yang terjadi diPusdiklat bahasa harus segera diselesaikan dengan tuntas, karena bila pihak pemerintah Jepang mendengar ada kejadian tersebut maka masalahnya bisa jadi panjang. Penyelesaian harus dengan melibatkan intitusi terkait seperti Deplu. Soal nasionalisme model Korea, rakyat kita juga punya bahkan lebih. Jangan menyangsikan nasionalisme masyarakat kita untuk membela negaranya. Masalahnya adalah sebesar apa dukungan dan perhatian dari pemerintah dan penguasa terhadap masyarakat yang mempunyai nasionalisme tersebut. Karena yang pernah terjadi adalah rasa nasionalisme tersebut akhirnya berjalan sendiri seperti pahlawan kesiangan dengan resiko yang ditanggung sendiri sedangkan pemerintah juga berjalan dengan misinya sendiri. I GDE AGIT THOMAS, Suspimjemen III

damopolii mengatakan...

Komentar

Menurut saya cara-cara siswa Korsel tersebut tidak simpati. Hal tersebut dapat menggangu lembaga pendidikan yang tidak boleh membicarakan isu politik dan khususnya hubungan antar siswa mancanegara apabila ada siswa dari Jepang. Tindakan tersebut bagi saya bukan merupakan bentuk bela negara atau loby namun bentuk provokasi untuk mencari perhatian. Aksi tersebut juga tidak pada tempatnya karena tidak ada pihak yang akan menanggapi, selain teguran dari lembaga pendidikan. Permasalahan tersebut seharusnya dibawa ke Mahkamah Internasional oleh pemerintah kedua negara.
Indonesia kehilangan pulau (Sipadan dan Ligitan) karena kurangnya kepedulian dari pemerintah untuk menunjukan eksistensi di pulau tersebut dan kelemahan dalam loby pada tingkat Internasional.

LETKOL ADM M. ARIEF DAMOPOLII PESERTA SUSPIMJEMENHAN III/2008

Anonim mengatakan...

Terlepas dari apa yang dilakukan oleh siswa korea selatan dan tim keseniannya pada malam internasional bagi siswa mancanegara, Saya berpendapat bahwa yang dilakukan adalah suatu bentuk dari rasa nasionalisme mereka yang tinggi sekali terhadap negaranya, sehingga dengan memiliki rasa nasionalisme yang tinggi tersebut tanpa memandang tempat dan waktu mereka ingin menunjukkan kepada dunia luar bahwa pulau Dokdo adalah merupakan bagian dari negaranya. Sikap ini menunjukkan bahwa tanpa ditanyapun mereka akan menyampaikan keberadaan pulau Dokdo adalah miliknya dan harus dipertahankan. Ini adalah salah satu strategi yang telah disusun oleh pemerintah korea selatan untuk mengkampanyekan bela negaranya kepada dunia luar.
Wayan Deli S/Siswa Suspimjemenhan III

Anonim mengatakan...

Letkol D Sigalingging suspimjemen III
ijin memberi komentar

Masalah kejadian di pusbahasa dephan,tentang demonstrasi calon siswa dengan menulis spanduk saat malam Internasional,adalah langkah-langkah keliru dalam mencari solusi ataupu dukungan dari pemerintahan Indonesia,karena secara juridis para calon siswa sudah keluar dari misi sebagi calon siswa diIndonesia apalagi itu perwira yang akan menjadi pemimpin di Indonesia dan dilakukan pada event malam internasional,bukan dalam kapasitas mewakilinegara untukmencari dukungan Indonesia pada sengketa antar negara mereka, Bilakita mau jeli dan konsisten cara-cara seperti itu kurang tepat, karena di tinjau dari manfaat kurang,oleh sebab itu lebih banyak mudaratnya. Kita tau Indonesi dan Jepang hubungan juga baik, sebaiknya langkah demontrasi yang tidak pada tempatnya,pemerintah Indonesia melarang, minimalmemberitahukan kepada calon siswa tersebut misinya di Indoneia Belajar,Mengenai sosialisasi bela negara masryarakatIndonesia ataupun Khususnya TNI saya berpendapat tidakperlu diragukan yang menjadipersoalan adalah cara mensosialisasi beka negara kepada masyarakat selamaini sangat kurang,apalagi kepada generasimuda khususnya Mahasiswa,pemerintah perlu membangun carakter masyarakat dari saat usia muda,dengan memberikan pelajaran mulai tingkat paling rendah dengan cara yang sederhana dan aplikatif dan dapat diterima nalar mereka,dan kepada mahasiswa dibuat dibamgun partisipasi mereka untuk turut secara aktif dalam seminar-seminar tentang wawasan bela negara,yang mana selama ini jarang sekalimelibatkan dunia akademis. Perlu mencari terobosan berupa solusi mungkin bersifat preventive dan bukan koersif sehingga mereka dapat menerima dengan baik walaupun kita yakin tidak semua akan menerimanya. Implementasi sosialisasi belanegara perlu dilakukan, di dalam dan Luar negeri, sedang untuk masalah konflik perbatasan dengan negara luar menjadi urusan pemerintahan pusat dimana leading sektornya deplu,bukan semua warganya terlibat masalah negosiasi, Negara dalan konteks negara-bangsa( nation-state) akan siap memberi dukungan secara total terhadap negosiator negara. Demikian Komenta saya terimakasi

LetkolArh D. Sigalingging Suspim jemen Han III

Anonim mengatakan...

Yth Kabadiklat.
Saya Letkol Inf Pramudya AP iin berkomentar.
Saya melihat dari sudut Bela Negaranya itu sangat positif tinggal kita yang menilai positif atau tidak untuk kepentingan bangsa kita dari semangatnya berdiplomasi kita perlu contoh hal itu merupakan kampanye keluar atau kampanye internasional, saya pun apabila diberi kesempatan keluar negri akan saya lakukan seperti itu untuk promosi bangsa kita keluar.Sebagai evaluasi kita selalu kalah dalam hal berdiplomasi keluar atau meyakinkan dunia internasional, kalau kita simak pelaksanaannya Korsel menggunakan budayanya sendiri dengan gaya dan bahasanya sendiri, kenapa kita tidak bisa . Dari beberapa masalah yang sudah kita lalui seperti Sipadan Ligitan dan masalah Timtim ,Ham 'Lingkungan hidup kita kalah dan terpojok karena kita kalah berdiplomasi dan tidak percaya diri.Padahal kita bangsa yang besar tetapi banyak yang kurang percaya diri akan budaya dan bahasanya sendiri malah banyak yang terpengaruh oleh budaya luar/barat bahkan sebaliknya mereka tidak menganggap terhadap bangsa kita. Yang jelas kita sebagai bangsa Indonesia harus sadar dan segera berbuat, waspada bahwa dilingkungan negara kita , kita tdak punya teman tetapi banyak negara lain yang ingin menguasai atau memanfaatkan negara kita. Nilai-nilai kebangsaan dan kebersamaanlah yang harus kita perkokoh dan mari kita berdiplomasi keluar bahwa kita adalah bangsa yang besar kuat dan disegani. Jangan kita hanya bisa mendemo sodara kita sediri dan bahkan menjelek-jelekkan bangsanya sendiri diluar hanya untuk kepentingan pribadi.

Trima kasih
Letkol Inf Pramudya AP.
Siswa Sespimjemen III

Anonim mengatakan...

KOMENTAR TENTANG BELA NEGARA CARA KOREA SELATAN

Kejadian di Pusdiklat Bahasa Badiklat Dephan pada tanggal 28 Agustus 2008 yang lalu, dimana siswa yang berasal dari Korsel menampilkan atraksi kesenian yang disinyalir merupakan sebuah kampanye nasional yang membawa pesan politik Korsel ke dunia Internasional dengan adanya tulisan “ Dokdo is Korean Territory”. Menurut kami, hal ini merupakan salah satu cara yang sah-sah saja dalam rangka Upaya Bela Negara yakni melalui diplomasi/pendekatan budaya. Mereka melakukan diplomasi untuk membentuk opini melalui atraksi kesenian bahwa Dokdo adalah milik Korsel. Tidak membutuhkan biaya yang banyak tetapi cukup memberi Psy War bagi Negara lawannya yang sedang mempersengketakan pulau Dokdo tersebut. Rasa dan semangat kebangsaan yang dipertontonkan dalam atraksi tersebut bahwa Dokdo adalah bagian yang tak terpisahkan dari Korsel juga dapat mempengaruhi opini Negara lain. Mungkin cara ini digunakan Korsel karena mengambil pelajaran dari sengketa-sengketa wilayah yang terjadi dimana apabila dibawa ke Mahkamah Internasional walaupun membutuhkan waktu yang lama dan biaya tetapi MI akan memenangkan Negara yang dominan mengelola wilayah sengketa tersebut.
(Emi Rensyana L./Siswa Suspimjemenhan III)

Anonim mengatakan...

KOMENTAR SINGKAT TENTANG PERWIRA ANGKATAN BERSENJATA KORSEL” DALAM BELA NEGARA CARA KOREA SELATAN”.



Mengomentari masalah siswa korea selatan dalam rangka bela Negara sangat me
narik, jang mana perwira tersebut mempunjai rasa nasionalisme jang tingi terhadap negaranja.dengan mengelar pertujukan kesenian. hal kita bisa melihat wujut protes terhadap permasalahan pulau karang kecil(islet) jang menjadi sengketa antara kedua Negara jang menjadi sengketa. mereka tetap mengangap bahwa pulau tersebut masih mil ik Negara Korea dengan alas an:

1. pulau tersebut tetap milik Negara korea selatan sebagai wilayah teritorialnja jang harus tetap dipertahankan.

2. Korea selatan tetap menjaga integritas negaranja dalam mempertahankan keutuan wilayah teritorialnja.

3. sebagai kampanye terselubung kepada Negara lain ,bahwa permasalahan P Islet tetap milik Negara Korea selatan.

4. menunjukan warga Negara korea selatan mempunjai nasionalisme jang tingi dalam mempertahankan kedaulatan negaranja.
dari.letkol akhmad isnanto.

Anonim mengatakan...

Andaru Nugroho Berkomentar

Dalam pentas seni budaya siswa manca negara Pusdiklat Bahasa Dephan seperti yang telah dilakukan oleh Siswa dari Korea, sekali mengajarkan kepada kita (pelajaran pertama) bahwa sesuatu yang baik belum tentu dipakai dengan baik oleh pihak lain. Pelajaran ini sudah diulas oleh Ka Badan, yang tentunya harus ditindaklanjuti oleh Badiklat Dephan sendiri dengan pembentukan Pokja Rule of Game dan Rule of Law Pentas Seni Siswa Manca Negara dan diikuti dengan komite sosialisasi dan pengawasan secara ketat di masa-masa mendatang.

Pelajaran kedua mengatakan kepada kita (ini better late than never, dan sekali lagi membuktikan bahwa kita adalah bangsa gumunan) bahwa kalau sudah menyangkut kedaulatan, keutuhan wilayah dan keselamatan negara dan bangsa apapun harus ditempuh (meskipun menyinggung negara tuan rumah), segenap sumber daya nasional harus dikerahkan (keseriusan mereka mengirimkan 12 penari dan peralatan dengan dukungan dari kedutaan besar mereka pantas dipakai sebagai ilustrasi), dan kesempatan apapun harus dipergunakan (meskipun hanya even budaya). Semuanya itu kemudian disempurnakan dengan bungkus yang dimenej yang cantik (tahu bahwa Jepang ndak ada dalam acara tersebut dan tahu manajemen pengelolaan Pentas Seni itu lemah => buktinya Pusdiklat Bahasa kecolongan).

Kalau sudah bicara pelajaran yang ke dua itu bangsa manapun harus realistis, pasti dan terukur. Menyangkut kedaulatan, keutuhan wilayah dan keselamatan negara dan bangsa, jangan malu-malu kucing. Malu-malu kucing akan susah ditebak oleh bangsa lain dan menunjukkan tradisionalitas manajemen, yang akan dengan mudah dilibas dalam arti tidak diperhitungkan oleh bangsa lain, alias akan menjadi bangsa bulan-bulanan.

Faktanya dalam konteks strategi pertahanan, malu-malu kucing ini masih menghinggapi kebijakan pertahanan Indonesia. Tidak seperti Singapura jelas menyatakan bahwa yang membahayakan kedaulatan, teritorial, dan keselamatan negaranya adalah Malaysia, yang diikuti strategi yang jelas dalam pembangunan kekuatan, kemampuan, dan gelar pasukan. Atau Australia yang menyatakan yang membahayakan kedaulatannnya akan lewat atau berasal dari utara (kita pernah GR, padahal yang dimaksud China), yang kemudian diikuti oleh strategi pengembangan kekuatan, kemampuan dan gelar pasukan di wilayah utara negara Australia. Sama halnya dengan India, China, Amerika, Rusia, Inggris, semuanya menyatakan dengan konkrit siapa, kemana dan seberapa besar kekuatan pertahanan hendak dibangun. Penetapan secara konkrit siapa yang akan dihadapi yang membahayakan eksistensi bangsanya adalah universal guna menetapkan strategi dan postur pertahanan yang hendak dibangun dan dipersiapkan.

Wajarlah kemudian Indonesia menghilangkan ewuh pekewuhnya alias malu-malu kucingnya dengan menetapkan secara konkrit bahwa yang membahayainya adalah Malaysia dan Singapura. Dengan kepastian penetapan itu menjadi jelas berapa Alutsista yang perlu dipersiapkan, berapa personel yang harus dilatih, di mana kekuatan itu digelar. Ukuran kekuatan yang dibangun paling tidak seimbang, syukur-syukur melebihi kekuatan pertahanan yang dimiliki oleh kedua negara yang kita tetapkan sebagai yang membahayakan eksistensi itu. Penetapan itu bukan kemudian menyatakan mereka sebagai musuh, tetapi lebih pada untuk membuat strategi dan postur pertahanan yang hendak kita bangun menjadi realistis, terukur dan pasti.

Apa yang terjadi sekarang adalah karena ukuran itu tidak jelas, maka dengan mudah minimum essential force yang sekitar 100 trilliun itu dimentahkan DPR dan cukuplah 34 trilliun, dan masih dihibur dengan asumsi 5 sampai dengan 10 tahun mendatang tidak akan ada ancaman militer dari negara luar. Weallah Saya jadi ingat kata Mas Edy Prasetiono yang rupanya perlu disosialisasikan kepada segenap komponen dan elemen bangsa: “Lingkungan strategis berubah menjadi suasana konfrontasi dapat berubah cepat dalam hitungan minggu, hari dan bahkan jam, tetapi membangun sistem dan kekuatan pertahanan perlu puluhan tahun”.

Pelajaran yang ketiga dari apa yang dilakukan oleh Siswa Korea Selatan di Pentas Seni itu adalah semakin meyakinkan kita tentang strategi pertahanan berlapis, yang di masa damai lapis yang dimainkan adalah strategi atau kekuatan pertahanan nirmiliter, cote à cote diplomasi.

Kekuatan diplomasi adalah resultante kekuatan nasional di masa damai yang diakui dan ditolerir oleh semua bangsa yang beradab. Dengan kata lain semua bangsa yang beradab di dunia ini sah dan boleh "menyerang" bangsa lain dengan diplomasi, halus ataupun kasar. Persoalannya adalah memainkan kekuatan diplomasi itu perkara mudah, tetapi pendukung agar kekuatan diplomasi itu tidak kopong menjadi sulit dan faktanya hal itu yang menjadi persoalan besar bangsa ini dalam menerapkan strategi pertahanan berlapis dengan mengedepankan stategi diplomasi.

Kekuatan politik, ekonomi dan militer adalah isi dan peluru kekuatan diplomasi. Korea Selatan sadar benar kekuatannya itu sehingga dengan enak ia memainkan gerak tari diplomasi di manapun dan kapanpun. Dalam konteks pentas seni serta perhitungan dan manajemen yang apik Siswa Korsel sadar benar bahwa tindakannya tidak akan diapa-apakan oleh otoritas Pentas Seni dan pengawasannya tidak ketat.

Dalam hal itu kekuatan nonmiliter pada sistem pertahanan negara mendukung diplomasi hanyalah salah satu unsur saja dari unsur-unsur pembentuk kekuatan pertahanan. Tiga unsur lain pembentuk kekuatan pertahanan negara adalah TNI yang profesional, Komponen cadangan dan komponen pendukung yang sigap, dan unsur lain kekuatan bangsa yang sadar bela negara. Lengkapnya uraian mengenai unsur teknis pembentuk kemampuan pertahanan negara baca: Letkol Caj K.D. Andaru Nugroho, S.Sos M.Si, ”Sistem Pertahanan Negara Bersifat Semesta dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara, Unsur Teknis Kemampuan dan Kekuatan Pertahanan”, dalam Majalah Wira, yang diterbitkan tahun 2007(maaf nomornya lupa).

Dalam konteks unsur, bangun dan kekuatan pertahanan nirmiliter baca Majalah Dephan Wira Vol 18 No. 2 Juli – Agustus 2006, hlm. 31 – 35, Letkol Caj K.D. Andaru Nugroho, “Nonmilitary Defence”.
Dalam konteks membangun kekuatan nirmiliter melalui regulasi pembangunan kesadaran bela negara setiap warga negara mari kita dukung penyusunan RUU Dikwar yang dipersiapkan Ditjen Pothan Dephan dan mari kita sukseskan seminarnya yang dikerjasamakan dengan Suspimjemenhan III.

Selesai

Anonim mengatakan...

Yth, Kabadiklat
di tempat.
Mohon izin saya Letkol Arm Ade Jaya prayitno siswa suspim jemenhan angkatan III menanggapi tentang orasi siswa korea sbb.

Seni rampak gendrang yang dipertunjukan siswa dari mancanegara Korea terkait adanya kandung maksud dari bangsa yang menegara dan mempunyai kedaulatan yang kuat terhadap keutuhan wilayah negaranya dimana terdapat satu pulau yang menjadi sengeta dengan negara Jepang yaitu pulau Dokdo, bentuk pertunjukan ini adalah sah-sah saja dalam mengekspresikan kepemilikannya sebagai bentuk perjuangan atas suatu yang menjadi miliknya dan sebagai bentuk rencana kampanye terselubung. Terlepas ada atau tidak tanggapan dukungan yang positif/negatif dari apa yang mereka tunjukan, bila kesan dari pertunjukan tersebut mendapat dukungan maka ini akan menjadi suatu keuntungan yang secara tidak langsung, negara korea klaim pulau dokdo tersebut. Bentuk perjuangan ini dapat dijadikan pelajar bagi bangsa indonesia dalam memperjuangkan sautu kemilikan atas kedaulatan dan keutuhan wilayah dengan tidak harus mengangkat senjata dan tidak membutuhkan dana yang terlalu besar selain itu perjuangan dapat dilakukan oleh seluruh anak bangsa melalui berbagai propesi.

Demikian komentar kami.

Anonim mengatakan...

Dari Letkol inf Agus Deri
menurut pendapat saya bela negara waajib di miliki seluruh warga negeranya apalagi seorang tentara, namun berkaitan dengan kasus sisswa korea selatan menjadi pelajaran untuk badiklat agar kedepan pada kegiatan malam inter nasional sebelum pelaksanaan seluruh siswa diberi pengarahan dalam menampilkan suatu atraksi jangan sampai menyinggung masalah polityik ataaupun masalah yang menyinggung negara lain, sekali lagi kejadian ini merupakan pelajaran berharga untuk pusbahasa yang kebetulan saat ini tidak ada siswa dari jepang.

Mulyadi-Protokol Dephan mengatakan...

KOMENTAR TENTANG BELA NEGARA CARA KOREA SELATAN
Selamat Malam Kabadan, Mohon ijin ikut berkomentar:
Kejadian di Pusdiklat Bahasa Badiklat Dephan pada tanggal 28 Agustus 2008 pada malam internasionalyang lalu, dimana siswa yang berasal dari Korsel menampilkan atraksi kesenian sekaligus pesan politik Korsel ke dunia Internasional berupa spanduk “ Dokdo is Korean Territory”. Menurut saya adalah prestasi dan kejelian misi Athan Korsel di Jakarta dalam memanfaatkan semaksimal mungkin event untuk kepentingan nasionalnya, Athan Korsel tahu persis Jepang tidak ada dan negara besar lain ada sehingga sangat cermat perhitungan intelijennya untuk menyuarakan pesan politik. Apa kemamuan Athan kita juga sampai pada level ini ya, bila bertugas di LN?. Membentuk opini internasional melalui pesan Dokdo adalah milik Korsel dan atraksi kesenian sebagai umpan adalah cara cerdik yg paling pas dalam sebuah event tsb. Rasa dan semangat kebangsaan yang dipertontonkan dalam atraksi tersebut dapat mempengaruhi opini Negara lain ttg seriusnya Korsel mengurusi Dokdo islands dengan satu harapan bila masalah inipun sampai ke Mahkamah Internasional yg membutuhkan waktu dan biaya pada akhirnya akan dimenangkan Korsel seperti pengalaman Malaysia dalam merebut Sipadan dan Ligitan, yg menggunakan pendekatan kesejahteraan. Demikian mmp
(Ltk Cpl Ir. A. Mulyadi M.Sc/Siswa Suspimjemenhan III)

Rabu, September 17, 2008 9:06:00 PM

Anonim mengatakan...

Kol Inf I Made Sumantra.
Kesan yang bisa diambil dari pertunjukan siswa Korea Selatan pada saat acara Budaya dan Bahasa di Badiklat Dephan adalah adanya keberanian siswa Militer Korea Selatan untuk melakukan kegiatan diplomasi politik dihadapan even internasional. Pertanyaan adalah apakah benar pertunjukan siswa Korea Selatan tersebut bersifat spontanitas?. Jawabannya tentu kita sepakat mengatakan itu bukan spontanitas. Pertunjukan yang dilatari dengan spanduk DOKDO IS MY TERITORY merupakan rencana strategis yang tersusun secara sistematis demi kepentingan Bangsa Korea. Lalu pertanyaan selanjutnya adalah kenapa siswa Militer ( MILITER) dilibatkan oleh bangsa korea untuk melakukan diplomasi politik.? Jawaban singkatnya adalah karena Bangsa Korea sudah memiliki kesamaan visi tentang ancaman yang akan dihadapi oleh bangsa Korea. Komponen bangsa Korea Selatan apakah Politisi, Pemerintah,Militer dan masyarakat telah bersatu padu untuk menghadapi musuh yang sama. Pertanyaan ketiga Kenapa Korea Selatan bisa seperti itu. Jawabannya adalah karean mereka sudah dewasa, didewasakan oleh pengalaman pahit konflik dalam negeri yang melelahkan. pertanyaan terakhir. Kapan kita sebagai bangsa indonesia lelah bertikai ? jawabnya pasti akan lelah sekarang sedang proses menuju dewasa. Kita pasti Bisa.

Anonim mengatakan...

Drs Susilo Wiyanto MM.Siswa Suspimjemenhan III TA 2008,ijin memberi komentar "Bela Negara Cara Korea Selatan".
Relevansi rasa kebangsaan dengan bela negara merupakan segala bentuk kegiatan warganegara yg dilakukan untuk meningkatkan rasa kebangsaan pada dasarnya merupakan prakondisi bagi satu kesatuan yg tidak dapat dipisahkan dari faham berbangsa dan semangat kebangsaan .Oleh karena itu dalam setiap pilihan tindakan harus dilakukan secara profesional yang berdasarkan pengetahuan yaitu pilihan yang banyak mengandung kebenaran, kebaikan dan keindahan serta meminimalisasi pengaruh negatif yang akan terjadi (pengurbanan/biaya seminimal mungkin) hal ini merupakan salah satu wujud dari tindakan bela negara secara profesional.
Dari penjelasan tersebut diatas, dikaitkan dengan kegiatan yang dilakukan siswa Korea Selatan, merupakan contoh diplomasi melalui budaya dalam mencari dukungan dimata dunia internasional dalam kasus pulau Dokdo,dimana kegiatan tersebut tanpa disadari oleh kita, bahwa begitu tinggi rasa kebangsaan dalam rangka bela negara masyarakat Korea Selatan, dengan segala upaya dan semangat juang yang tinggi dalam menggunakan kesempatan, dimana saja mereka berada. Dari pengalaman ini kita wajib mencontoh semangat juang masyarakat Korea Selatan dalam memperjuangkan pulau Dokdo yang dipersengketakan oleh negara Jepang,kalau menurut perhitungan seandainya dibawa langsung ke Mahkamah Internasional kemungkinan Korea Selatan bisa kalah.

Anonim mengatakan...

1.utk siswa korsel sbg wujud patriotisme yg dimunculkan pd even mlm budaya agar adanya pengakuan ttg kepemilikan pulau tsb,padahal msh dlm sengketa dgn jepang dan beruntung tdk ada siswa dr jepang sehingga tdk terjadi insiden yg terjadi dan aqkaqn berdampak pd ketegangan hub diplomatik kedua negara. 2.utk pusdiklat bahasa dlm menyelenggarakan even tsb adalah menampilkan atau memperkenalkan budaya bukan dimanfaatkan sbg kampanye yg akan menimbulkan ketegengan jika ada siswa jepang tdk terima dgn penampilan siswa korsel,untuk itu dlm menyelenggarakan even tsb hendak nya dr tiap siswa manca negara mengirimkan rencana pementasan nya jika perlu di gladi dulu dan selektif apakah acara tsb akan menyinggung negara lain,karena kita sbg tuan rumah bisa saja dr negara yg dirugikan beranggapan bhw kita ikut mendukung dan berpihak pd negara tsb. dr wawan hermawan

Anonim mengatakan...

SUGENG, SE, MSi, Suspimjemenhan III
Urun komentar tentang Bela Negara Cara Korea.

Saya sependapat dengan pernyataan Bapak Anton H Biantoro, terkait dengan Bela Negara Cara Korea. Seandainya kita melakukan hal yang sama, saat Sipadan Ligitan masih dalam konflik, mungkin Sipadan Ligitan sampai dengan saat ini belum menjadi miliknya Malaysia, bahkan mungkin masih tetap milik Indonesia.
Kampanye pada setiap kesempatan tentang Dokdo is Korean Territory oleh siswa Korea tersebut, menunjukkan keseriusan Pemerintah Korea atas apa yang menjadi keyakinan Korea tentang kepemilikkan Dokdo. Dan keputusan politik ini didukung sepenuhnya oleh seluruh warga Korea (mengagumkan).
Budaya "Teriak sebelum terjadi" ini sepatutnyalah untuk kita contoh, karena dengan model kampanye seperti inilah, Korea dimungkinkan akan memperoleh banyak dukungan yang dapat mempengaruhi keputusan Mahkamah Internasional, sehingga kasus Sipadan Ligitan tidak terulang di Korea.
Indonesia yang banyak memiliki pulau terluar, yang berbatasan langsung dengan negara lain, sangat rentan terhadap kemungkinan utnuk kehilangan wilayah/pulau, jika tidak waspada.
Kenakalan siswa Korea dalam kasus ini, merupakan perwujudan kemampuan olah pikir yang smart, karena kampanye di lakukan di lingkungan lembaga pendidikan Dephan yang nota bene sebagai lingkungan pemerintahan yang pernah sakit hati karena beralihnya kepemilikan Sipadan Ligitan. Mereka mengasumsikan dengan kampanye ini dapat memancing kemarahan Indonesia, sehingga harapan besarnya adalah kita mendukung "Dokdo is Korean Territory".
Belajar dari kasus tersebut, ada sebuah kisah ironis tentang sebuah keteladanan ; Seorang mantan Presiden RI (BJ Habibie) sangat terkesan dengan tayangan sinetron di sebuah TV Swasta berjudul "Cinta Fitri", kemudian Presiden RI (SBY) juga sangat terkesan dengan sebuah film layar lebar berjudul "Ayat ayat cinta" dan wujud kekaguman ini ditayangkan oleh media TV secara berulang, sehingga masyarakat banyak bisa melihat dan mendengar komentar kekagumannya. Disinilah ironisnya, disaat kata bela negara sedang gencar disosialisasikan, sebuah karya seni anak bangsa dalam bentuk film layar lebar hasil besutan Arie Sihasale berjudul "Denias, Senandung diatas awan" yang sarat dengan nuansa kesatuan dan persatuan (dalam salah satu tracknya, Denias (anak Papua) bercerita seraya menunjukan peta hasil buatannya, kepada sanak keluarganya (secara bersemangat), bahwa Papua adalah Indonesia. Film ini tidak memperoleh decak kekaguman dari siapapun. "Ironis". Namun kita tidak dapat memvonis itu sebagai sesuatu yang salah atau benar.
Terlepas dari itu semua, ke depan, marilah kita sama-sama menyadari dan sama-sama bertekad, bahwa tetap tegak utuhnya kedaulatan NKRI, adalah merupakan tanggung jawab kita semua bangsa Indonesia.
Jayalah Indonesiaku. Amin.

Eddy mengatakan...

Sebelum kita memberikan tanggapan tentang hubungan artikel bela negara cara Korea Selatan dalam contoh kasus perebutan pulau Dokdo dengan pemerintah Jepang, secara historis perlu kita cermati.

Dalam konteks bela negara cara Korea Selatan dalam event malam pengenalan budaya negara asing sebagai event rutin di pusdiklat bahasa, kalau di dalam pentas malam budaya menampilkan satu atraksi yang dilatar belakangi dengan simbol bahwa pulau Dokdo adalah merupakan wilayah teritori Korea dan dunia internasional mengetahui bahwa pulau Dokdo sedang dalam sengketa perebutan pulau dengan negara Jepang maka kita bisa menarik kesimpulan bahwa konsep bela negara masyarakat Korea sudah menjadi semangat membela pulau Dokdo oleh masyarakat Korea dalam mempertahankan wilayahnya. Hal ini sebagai wujud upaya bela negara agar dunia internasional mengetahui dan mendukung.

Namun misi politis yang diemban oleh siswa yang belajar di Indonesia dan ditampilkan dalam event malam budaya mempunyai nilai strategis bagi Korea untuk Indonesia. Di sisi lain setiap militer Korea yang ditugaskan belajar keluar negeri pasti akan membawa misi khusus dari negaranya.

Ditinjau dari aspek sejarah memang korea menjadikan pulau Dokdo sebagai monumen cagar alam dengan pelestarian burung camar ekor hitamnya, dari jarak dan kondisi geografis pulau Dokdo lebih dekat dengan korea (90 km timur pulau Ullung) namun Jepang juga mengklaim sebagai wilayah teritori.

Eskalasi sengketa perebutan pulau Dokdo yang terjadi dapat diselesaikan melalui mahkamah internasional kondisi ini juga bisa digunakan sebagai strategi pesan moral dan politis kepada dunia (dalam hal ini disampaikan dalam event malam budaya dalam bentuk event seni musik). Kalau event malam seni dan budaya yang diselenggarakan terdapat siswa manca negara Jepang, panitia penyelenggara harus cermat menyikapinya agar tidak menimbulkan konflik.

Demikian komentar saya mudah-mudahan bermanfaat.

Terima kasih.

EDDY POERWANTO

Anonim mengatakan...

Letak Pulau Dokdo yang terletak tengah-tengah antara Korea Selatan dengan Japan , saat ini dalam sengketa antar kedua Negara tersebut, Propaganda siswa Korea sah-sah saja, salah satu bentuk diplomasi Negara, perlu untuk ditiru sebagai bentuk membela kedaulatan wilayah negaranya, Barangkali dulunya P Dokdo milik Korea, namun pada saat Jepang menguasai Korea , Dokdo masih dikuasai. Hal inilah yang disampaikan Siswa Korea dalam forum malam internasional . Kalau dibawa ke Mahkamah Internasional tentunya akan lain, belajar dari kasus Sipadan Ligitan ( Indonesia dan Malaysia), dan Suar Housborg (Singapura dan Malaysia) , Korea akan mengambil pelajaran dari kasus ini dan cara siswa Korea ini lah akan lebih effekif.

( Letkol Laut (P) Mekky Mukarrom S)

Anonim mengatakan...

Kolonel Laut Syafii, Suspimjemenhan

Kampanye Bela Negara yang dilakukan oleh siswa asal Korea Selatan dalam bentuk pengakuan pulau Dokdo is Korean Territory adalah merupakan usaha untuk mendapatkan dukungan pengakuan dari dunia internasional khususnya Jepang sebagai negara yang meng claim. Kampanye tersebut tidak akan membawa arti bila dasar hukum kepemilikan wilayah tsb tidak jelas, apalagi penguasaan secara fisik tidak dilaksanakan. Bagi Pusjemen selaku penyelenggara untuk yang akan datang event-event yang memungkinkan menimbulkan masalah agar tidak diijinkan untuk ditampilkan.

Anonim mengatakan...

Mengomentari artikel “Bela Negara Cara Korea Selatan”, memang itu adalah merupakan suatu wujud dari siswa Korea Selatan selaku warga Negara yang mempunyai “sens of belonging” serta kesadaran yang tinggi akan arti pentingnya suatu kedaulatan Negara. Sehingga dimanapun mereka berada pasti akan selalu memperjuangkan/membela kedaulatan negaranya dengan berbagai cara agar dapat menarik simpati yang pada akhirnya akan membentuk opini dari masyarakat internasional tentang apa yang sedang mereka perjuangkan/sengketakan,serta menunjukkan pada dunia bahwa gugusan pulau pulau karang kecil (islet) yang terletak hampir tepat ditengah-tengah diantara daratan utama Korea Selatan dengan Jepang adalah merupakan wilayah territorial Korea Selatan.
(Kol Cku Djoko Rachmadhy)

Letkol RM Napitupulu,SE mengatakan...

Komentar Letkol RM Napitupulu, SE

Penampilan siswa ‘nakal’ sesko dari Korea Selatan memberi pesan bahwa permasalahan 33 pulau karang kecil dengan Jepang yang belakangin ini mencuat menyatakan bahwa Korsel butuh dukungan negara lain dalam membela negara nya, walaupun dengan cara yang ‘nakal’ dengan semangat memanfaatkan gelar seni budaya sebagai ajang publikasi, ada kesan bahwa Korsel siap mempertahankan Pulau Dokdo( yang sejak tahun 512, jaman Dynasti Shilla memberi nama pulau Usankuk) dari rebutan Jepang, terlihat dengan spanduknya, “ Dokdo is Korean Teritory.” Bagaimana dengan Indonesia? Semangat bela negara masih terkesan urusan TNI saja, masyarakat belum memahami, perlu nya sosialisasi dari Pemerintah tentang BELA NEGARA.

Letkol RM Napitupulu,SE mengatakan...

Yth Bapak Anton H B,
beberapa rekan suspim telah memberi komentar melalui email,terimakasih.

Unir mengatakan...

Yth. Kabagdiklat
Komentar tentang"Bela Negara Cara Korea Selatan"
Sungguh disayangkan hal ini terjadi pada lembaga pendidikan.yang tentunya ada juga siswa lain dari negara lain.Dengan cara yang kurang tepat siswa tersebut menyampaikan kampanye tentang kepulauan Dogdo yang dalam nota bene masih dalam sengketa,sehingga dikawatirkan akan mengundang hal yang lebih buruk lagi.namun hal itu tidak terjadi,karena tidak ada sisiwa dari jepang.Dengan cara yang kurang tepat kedutaan Korea Selatan menggunakan lembaga pendidikan sebagai sarana kampanye,hal ini terjadi karena tidak jelinya panitya penyelenggara yang tidak jeli. Di balik hal tersebut ada sisi baiknya yaitu dengansegala resiko yang cukup besar,menunjukan cinta kebangsaan yang tinggi dinegara lain, namur tidak pada kndisi yang tepat.
Bagi warga negara kita melalui mahasiswanya yang belajar diluar negeri,harus berani dan mempunyai rasa kebangsaan yang tinggi dengan berani promosi negara Indonesia kenegara lain namun dengan cara-cara terpuji dan dapat diterima negara lain.
selesai.
siswa suspimjemen Ltk Inf Unir E.N

Anonim mengatakan...

Yth. Kabadiklat Dephan.

Menanggapi acara Malam “Seni Budaya Internasional” yang disesenggarakan oleh Pusbasa dengan para siswa Mancanegara yang sedang melaksanakan kursus bahasa Indonesia pada tanggal 28 Agustus 2008. Khususnya penampilan Siswa Korea Selatan yang menampilkan Kesenian Tradisional mereka dengan menyelipkan pesan Politik Negaranya dengan spanduk “DOKDO is Korean Territory” Kita harus dapat menganbil hikmah dari kejadian tersebut antara lain :

1. Harus kita akui bahwa Rasa kebangsaan/Nasionalisme /bela negara yang tinggi dari siswa Korea Selatan dapat diwujudkan dengan memanfaatkan acara kebudayaan tersebut sebagai salah satu “Kampanye Politik” Negaranya untuk mendapatkan simpati negara lain agar mendapat dukungan dalam mengatasi konflik perebutan pulau DOKDO dengan negara Jepang, hal ini merupakan strategi yang cantik dan perlu di contoh bagi kita untuk mencari dukungan Internasional dalam menyelesaikan konflik perbatasan dengan negara tetangga melalui strategi Diplomasi yang baik, jangan hanya mengandalkan faktor sejarah atau hukum yang tidak dapat dijadikan pegangan yang kuat dalam menyelesaikan konlik perbatasan negara, contoh hilangnya Pulau Sipadan dan Ligitan, Kasus Ambalat, strategi dilomasi kita sangat lemah apabila tidak diantisipasi dengan strategi diplomasi yang baik baik kita akan banyak kehilangan wilayah territorial.

2. Pelajaran juga bagi kita khususnya Pusbasa, dalam menyelenggarakan acara serupa kita harus waspada jangan sampai kejadian ini terulang lagi, karena kejadian ini justru akan merusak hubungan negara kita dengan negara-negara lain seolah-olah kita sebagai sponsor dari “ Kampanye Politk Negara lain “ .

Oloh : Lekol Arh Bambang Suartono S.IP

Anonim mengatakan...

Pertujukan kesenian perwira siswa Korea Selatan tersebut sebagai kampanye terselubung sah-sah saja sebagai salah satu bentuk perjuangan atas suatu yang menjadi miliknya, apalagi mereka sebagai seorang warga negara Korea Selatan yang mempunyai rasa nasionalme yang tinggi. Terlepas ada atau tidak tanggapan dukungan yang positif/negatif dari apa yang mereka tunjukan, bila kesan dari pertunjukan tersebut mendapat dukungan maka ini akan menjadi suatu keuntungan yang secara tidak langsung terhadap klaim atas pulau dokdo tersebut.
Bentuk perjuangan ini bagi bangsa Indonesia dapat dijadikan contoh dalam memperjuangkan kemilikan atas suatu pulau demi keutuhan wilayah kesatuan Republik Indonesia tanpa harus mengangkat senjata dan tidak membutuhkan dana yang terlalu besar.

Anonim mengatakan...

Pertujukan kesenian perwira siswa Korea Selatan tersebut sebagai kampanye terselubung sah-sah saja sebagai salah satu bentuk perjuangan atas suatu yang menjadi miliknya, apalagi mereka sebagai seorang warga negara Korea Selatan yang mempunyai rasa nasionalme yang tinggi. Terlepas ada atau tidak tanggapan dukungan yang positif/negatif dari apa yang mereka tunjukan, bila kesan dari pertunjukan tersebut mendapat dukungan maka ini akan menjadi suatu keuntungan yang secara tidak langsung terhadap klaim atas pulau dokdo tersebut.
Bentuk perjuangan ini bagi bangsa Indonesia dapat dijadikan contoh dalam memperjuangkan kemilikan atas suatu pulau demi keutuhan wilayah kesatuan Republik Indonesia tanpa harus mengangkat senjata dan tidak membutuhkan dana yang terlalu besar.

Kolonel Adis
Suspimjemen

Anonim mengatakan...

Kepada Yang terhormat Kabadiklat Dephan.
Mohon ijin menjawab pertanyaan Kabagdiklat melaui Bloger. Tentang Selat Malaka.

PENTINGNYA MENJAGA STABILITAS KEAMANAN
DI PERAIRAN SELAT MALAKA

Perairan kawasan Selat Malaka sudah sejak jaman dahulu merupakan perairan penting bagi pelayaran internasional. Saat ini keamanan perairan Selat Malaka menjadi issu central bagi negara negara yang memiliki kepentingan terhadap jalur pelayaran di Selat Malaka tersebut. Negara negara Asia yang sangat tergantung pada keamanan Selat Malaka adalah China dan Jepang. Seluruh negara negara industri di Eropah juga menghkawatirkan keamanan Selat Malaka karena mereka memiliki kepentingan dalam rangka menyalurkan hasil industrinya ke negara negara Asia dan Pasifik termasuk ke Australia. Amerika Serikat yang yang telah membagi dunia ini menjadi zonz zona keamanan bagi kepentingan negaranya juga merasa bertanggungjawab terhadap keamanan perairandi Selat Malaka. Sebegitu pentingkah Selat Malaka bagi negara negara di dunia ? Memang demikian adanya Tuhan telah menciptakan Selat Malaka sebagai pintu gerbang yang sangat strategis untuk jalur transportasi perdagangan maupun kepentingan strategi militer. Siapapun yang menguasai pintu Selat Malaka dialah yang pada hakekatnya akan memegang kendali maju mundurnya perekonomian dunia. Namun sampai saat ini belum ada satu negarapun yang menguasai secara penuh atas jaminan kamanan dan keselamatan jalur pelayaran Selat Malaka tersebut. Indonesia, Malaysia dan Singapura yang pantai pantainya berhadapan langsung dengan Selat Malaka hanya mampu mengakui bahwa Selat Malaka adalah milik mereka, namun masalah pengaturan untuk menjaga keamanan dan keselamtan pelayaran belum mampu sepenuhnya mereka lakukan.

Isu keselamatan pelayaran di Selat Malaka menjadi penting diperhatikan karena berbagai faktor antara lain : 1. Selat Philip sebagai bagian terpenting dari Selat Malaka hanya memiliki kelebaran 800 meter. 2. Arus laut Selat Philip bisa mencapai kecepatan 3 mil dengan perubahan kecepatan yang tidak teratur. 3. Lalu lintas kapal setiap hari kira-kira 150-200, sebagian diantaranya kapal –kapal tangki raksasa. 4. Kedalamam laut hanya 23 meter. 5. Hujan dan angin yang kuat sewaktu waktu dapat terjadi. 6. Nelayan setempat banyak yang mencari ikan dan sering memotong jalur pelayaran dengan jalur Batam-Singapura. Dari kondisi tersebut dan seandainya Selat Philip disabotase dengan cara mengkaramkan beberapa kapal besar pada alur pelayaran, maka jalur transportasi laut akan menjadi berubah dan kemungkinan akan membuat lonjakan kenaikan harga harga barang yang berimplikasi pada gejolak sosial diseluruh dunia.

Isu keamanan Selat Malaka sampai saat ini masih seputar pembajakan dan perompakan kapal laut. Isu lainnya seperti penyelundupan manusia, senjata, amunisi, bahan peledak, hewan dan barang barang lainnya. Isu ini merupakan isu yang rentan terhadap tumbuhnya konflik antar negara khusunya Indonesia,Malaysia, Singapura, dan Thailand. Melihat kenyataan itu maka negara negara kuat dan besar yang memiliki kepentingan terhadap keamanan Selat Malaka saling berebut untuk mendapakan hak menjaga keamanan Selat Malaka. Seperti Amerika Serikat, China dan bahkan India semua pernah menyatakan merasa mampu untuk menjaga keamanan Selat Malaka. Keinginan dari Amerika Serikat, China dan India tersebut menjadi persolan baru bagi Indonesia, Malaysia dan Singapura. Ketiga negara pantai yang berhadapan langsung dengan Selat Malaka tersebut belum memiliki kata sepakat untuk menerima kehadiran negara-negara seperti yang dituliskan diatas. Walaupun Singapura berharap Amerika Serikat yang akan mengambil tanggung jawab. Namun China keliahatannya tidak akan membiarkan keinginan Amerika Serikat untuk menguasai pengamanan Selat Malaka dengan alasan alasan tertentu. Keberanian China menentang keinginan Amerika serikat tersebut bukan sekedar diplomasi tetapi sudah merupakan tantangan faktual bagi Amerika Serika. Setelah peristiwa berdarah dilapangan Tiananmen, China telah berjuang untuk meningkatkan citra nasionalnya melaluai pembangunan yang luar biasa. Ekonomi China berkembang 11.9 % pada tahun 2007. namun itu belum cukup memberikan kesejahteraan bagi seluruh rakyat China. Oleh karena itu pemerintah dan bangsa China akan terus berupaya kearah kemajuan bangsa dan negaranya melalui penguasaan sumber energi dan pangan yang ada diseluruh dunia. Untuk tujuan itu China telah membangun kekuatan Militer, kemampuan Cyber, kemampuan intelijen dan kemampuan luar angkasa. Seluruh dunia mengakui bahwa China memiliki kemampuan yang luarbiasa dalam penyamaran. Amerika Serika dan Eropah sangat khawatir terhadap kegiatan pencurian teknologi dan serangan serangan komputer yang dilakukan oleh China. Dengan kemanpuan tersebut dihadapkan dengan kepentingan China akan sumber daya energi dan pangan maka China keliahatannya sudah siap bertarung dengan siapa saja yang ingin menguasai Selat Malaka. Walaupun China tidak pernah secara terang terangan menyampaikan keinginannya untuk menguasai Selat Malaka tetapi China akan menolak keinginan Amerika Serikat maupun India untuk secara monopoli menguasai pengamanan dan keselamatan Selat Malaka. Kondisi ini adalah kondisi yang tidak menguntungkan bagi Indonesia, Malaysia dan Singapura. Kedepan Stabilitas keamanan Selat Malaka akan semakin penting demi kelancaran distribusi sumber energi dan pangan serta bahan pokok lainya dari belahan dunia barat kebelahan dunia timur dan sebaliknya. Menyikapi kondisi tersebut maka upaya upaya yang harus diperjuangkan oleh Indonesia, Malaysia dan Singapura adalah :
1. Tetap memiliki komitmen bahwa Selat Malaka merupakan bagian dari geografi yang diciptakan Tuhan untuk dimiliki dan dikuasi oleh tiga negara tersebut. Sehingga tidak boleh diserahkan kepada negara manapun untuk menjaga keamanan dan keselamatan pelayaran di Selat Malaka.
2. Terus berupaya memperbaiki aturan aturan yang berkaitan dengan hukum dan politik internasional, Prosedur pengamanan dan penjagaan keselamatan pelayaran.
3. Bantuan pengamanan yang dijanjikan oleh pihak manapun seperti Jepang, Amerika Serikat tetap dapat diterima sejauh tidak menggangu kehormatan bangsa negara Indonesia, Malaysia dan Singapura.

Dari seluruh analisa ditas dapat disimpulkan bahwa Selat Malaka adalah bagian dunia yang sangat vital ditinjau dari aspek kelancaran perdagangan dunia, oleh sebab itu stabilitas keamanannya harus dapat dijamin oleh negara negra yang secara geostrategi dan geopolitik berhak menguasainya yaitu Indonesia, Malysia dan Singapura.

Harapan yang lebih besar yang harus dicapai oleh Indonesia adalah Selat Malaka dimasa yang akan datang akan dapat dijadikan sumber pendapatan untuk mensejahterakan Bangsa Indonesia.
Jakarta; 22 September 2008
Penyusun
Kol. Inf. I Made Sumantra.SH

Anonim mengatakan...

Kepada Yang terhormat Kabadiklat Dephan.
Mohon ijin menjawab pertanyaan Kabagdiklat melaui Bloger. Tentang Selat Malaka.

PENTINGNYA MENJAGA STABILITAS KEAMANAN
DI PERAIRAN SELAT MALAKA

Perairan kawasan Selat Malaka sudah sejak jaman dahulu merupakan perairan penting bagi pelayaran internasional. Saat ini keamanan perairan Selat Malaka menjadi issu central bagi negara negara yang memiliki kepentingan terhadap jalur pelayaran di Selat Malaka tersebut. Negara negara Asia yang sangat tergantung pada keamanan Selat Malaka adalah China dan Jepang. Seluruh negara negara industri di Eropah juga menghkawatirkan keamanan Selat Malaka karena mereka memiliki kepentingan dalam rangka menyalurkan hasil industrinya ke negara negara Asia dan Pasifik termasuk ke Australia. Amerika Serikat yang yang telah membagi dunia ini menjadi zonz zona keamanan bagi kepentingan negaranya juga merasa bertanggungjawab terhadap keamanan perairandi Selat Malaka. Sebegitu pentingkah Selat Malaka bagi negara negara di dunia ? Memang demikian adanya Tuhan telah menciptakan Selat Malaka sebagai pintu gerbang yang sangat strategis untuk jalur transportasi perdagangan maupun kepentingan strategi militer. Siapapun yang menguasai pintu Selat Malaka dialah yang pada hakekatnya akan memegang kendali maju mundurnya perekonomian dunia. Namun sampai saat ini belum ada satu negarapun yang menguasai secara penuh atas jaminan kamanan dan keselamatan jalur pelayaran Selat Malaka tersebut. Indonesia, Malaysia dan Singapura yang pantai pantainya berhadapan langsung dengan Selat Malaka hanya mampu mengakui bahwa Selat Malaka adalah milik mereka, namun masalah pengaturan untuk menjaga keamanan dan keselamtan pelayaran belum mampu sepenuhnya mereka lakukan.

Isu keselamatan pelayaran di Selat Malaka menjadi penting diperhatikan karena berbagai faktor antara lain : 1. Selat Philip sebagai bagian terpenting dari Selat Malaka hanya memiliki kelebaran 800 meter. 2. Arus laut Selat Philip bisa mencapai kecepatan 3 mil dengan perubahan kecepatan yang tidak teratur. 3. Lalu lintas kapal setiap hari kira-kira 150-200, sebagian diantaranya kapal –kapal tangki raksasa. 4. Kedalamam laut hanya 23 meter. 5. Hujan dan angin yang kuat sewaktu waktu dapat terjadi. 6. Nelayan setempat banyak yang mencari ikan dan sering memotong jalur pelayaran dengan jalur Batam-Singapura. Dari kondisi tersebut dan seandainya Selat Philip disabotase dengan cara mengkaramkan beberapa kapal besar pada alur pelayaran, maka jalur transportasi laut akan menjadi berubah dan kemungkinan akan membuat lonjakan kenaikan harga harga barang yang berimplikasi pada gejolak sosial diseluruh dunia.

Isu keamanan Selat Malaka sampai saat ini masih seputar pembajakan dan perompakan kapal laut. Isu lainnya seperti penyelundupan manusia, senjata, amunisi, bahan peledak, hewan dan barang barang lainnya. Isu ini merupakan isu yang rentan terhadap tumbuhnya konflik antar negara khusunya Indonesia,Malaysia, Singapura, dan Thailand. Melihat kenyataan itu maka negara negara kuat dan besar yang memiliki kepentingan terhadap keamanan Selat Malaka saling berebut untuk mendapakan hak menjaga keamanan Selat Malaka. Seperti Amerika Serikat, China dan bahkan India semua pernah menyatakan merasa mampu untuk menjaga keamanan Selat Malaka. Keinginan dari Amerika Serikat, China dan India tersebut menjadi persolan baru bagi Indonesia, Malaysia dan Singapura. Ketiga negara pantai yang berhadapan langsung dengan Selat Malaka tersebut belum memiliki kata sepakat untuk menerima kehadiran negara-negara seperti yang dituliskan diatas. Walaupun Singapura berharap Amerika Serikat yang akan mengambil tanggung jawab. Namun China keliahatannya tidak akan membiarkan keinginan Amerika Serikat untuk menguasai pengamanan Selat Malaka dengan alasan alasan tertentu. Keberanian China menentang keinginan Amerika serikat tersebut bukan sekedar diplomasi tetapi sudah merupakan tantangan faktual bagi Amerika Serika. Setelah peristiwa berdarah dilapangan Tiananmen, China telah berjuang untuk meningkatkan citra nasionalnya melaluai pembangunan yang luar biasa. Ekonomi China berkembang 11.9 % pada tahun 2007. namun itu belum cukup memberikan kesejahteraan bagi seluruh rakyat China. Oleh karena itu pemerintah dan bangsa China akan terus berupaya kearah kemajuan bangsa dan negaranya melalui penguasaan sumber energi dan pangan yang ada diseluruh dunia. Untuk tujuan itu China telah membangun kekuatan Militer, kemampuan Cyber, kemampuan intelijen dan kemampuan luar angkasa. Seluruh dunia mengakui bahwa China memiliki kemampuan yang luarbiasa dalam penyamaran. Amerika Serika dan Eropah sangat khawatir terhadap kegiatan pencurian teknologi dan serangan serangan komputer yang dilakukan oleh China. Dengan kemanpuan tersebut dihadapkan dengan kepentingan China akan sumber daya energi dan pangan maka China keliahatannya sudah siap bertarung dengan siapa saja yang ingin menguasai Selat Malaka. Walaupun China tidak pernah secara terang terangan menyampaikan keinginannya untuk menguasai Selat Malaka tetapi China akan menolak keinginan Amerika Serikat maupun India untuk secara monopoli menguasai pengamanan dan keselamatan Selat Malaka. Kondisi ini adalah kondisi yang tidak menguntungkan bagi Indonesia, Malaysia dan Singapura. Kedepan Stabilitas keamanan Selat Malaka akan semakin penting demi kelancaran distribusi sumber energi dan pangan serta bahan pokok lainya dari belahan dunia barat kebelahan dunia timur dan sebaliknya. Menyikapi kondisi tersebut maka upaya upaya yang harus diperjuangkan oleh Indonesia, Malaysia dan Singapura adalah :
1. Tetap memiliki komitmen bahwa Selat Malaka merupakan bagian dari geografi yang diciptakan Tuhan untuk dimiliki dan dikuasi oleh tiga negara tersebut. Sehingga tidak boleh diserahkan kepada negara manapun untuk menjaga keamanan dan keselamatan pelayaran di Selat Malaka.
2. Terus berupaya memperbaiki aturan aturan yang berkaitan dengan hukum dan politik internasional, Prosedur pengamanan dan penjagaan keselamatan pelayaran.
3. Bantuan pengamanan yang dijanjikan oleh pihak manapun seperti Jepang, Amerika Serikat tetap dapat diterima sejauh tidak menggangu kehormatan bangsa negara Indonesia, Malaysia dan Singapura.

Dari seluruh analisa ditas dapat disimpulkan bahwa Selat Malaka adalah bagian dunia yang sangat vital ditinjau dari aspek kelancaran perdagangan dunia, oleh sebab itu stabilitas keamanannya harus dapat dijamin oleh negara negra yang secara geostrategi dan geopolitik berhak menguasainya yaitu Indonesia, Malysia dan Singapura.

Harapan yang lebih besar yang harus dicapai oleh Indonesia adalah Selat Malaka dimasa yang akan datang akan dapat dijadikan sumber pendapatan untuk mensejahterakan Bangsa Indonesia.
Jakarta; 22 September 2008
Penyusun
Kol. Inf. I Made Sumantra.SH

Anonim mengatakan...

KEAMANAN SELAT MALAKA
SUGENG, SE, MSi Suspimjemenhan III TA. 2008
Selat Malaka merupakan jalur yang padat dan sarat kepentingan, sebagai salah satu dari 250 selat di dunia, selat ini memiliki nilai komersial yang strategis dan termasuk dalam 13 selat paling strategis. Dua belas selat lainnya adalah Selat Sunda, Selat Lombok, Selat Denmark, Osumi-kaikyo, Selat Dover, Selat Gibraltar, Bab el Mandeb, Selat Hormuz, Selat Balabac, Selat Surigao, Selat Bering, dan Selat Magellan. Sama pentingnya seperti Terusan Suez atau Terusan Panama, Selat Malaka dengan panjang 500 mil membentuk jalur pelayaran terusan antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik serta menghubungkan tiga dari negara-negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia: India, Indonesia dan China. Sebanyak 50.000 kapal melintasi Selat Malaka setiap tahunnya, mengangkut antara seperlima dan seperempat perdagangan laut dunia. Sebanyak setengah dari minyak yang diangkut oleh kapal tanker melintasi selat ini. Dan selama berabad-abad, selat ini menjadi satu-satunya pintu gerbang utama untuk pelayaran menuju ke kawasan Timur. Tingginya nilai komersial dan ke strategisan selat ini, menyebabkan kawasan ini menjadi sangat rawan terhadap adanya terorisme dan pembajakan.
Selain pengaturan navigasi laut yang komprehensif, pengamanan Selat Malaka menjadi sangat penting guna mencegah kejahatan transnasional dan ancaman terorisme, tanggung jawab dan otoritas pengamanan Selat Malaka adalah urusan Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Sikap Indonesia dalam menghadapi isu pengelolaan keamanan di Selat Malaka dipengaruhi oleh banyak hal yang merupakan cerminan dari kepentingan nasional dan kebijakan luar negeri Indonesia. Apabila dilihat dari kepentingan nasionalnya, maka Indonesia menolak adanya intervensi pasukan asing terutama dari Amerika Serikat semata - mata untuk menjaga kestabilan politik didalam negeri. Kestabilan politik dalam negeri secara tidak Iangsung akan mempengaruhi kondisi dalam negeri Indonesia dimana Indonesia sedang melakukan transformasi politik, menghadapi berbagai macam permasalahan dalam negeri seperti Pemerintahan yang tidak stabil, perekonomian yang rapuh, gerakan pemisahan diri, konflik etnis dan religius yang mengancam demokrasi. Selain itu, dengan tidak melibatkan pasukan asing, Indonesia ingin menunjukkan kepada dunia luar bahwa dengan keadaan peralatan dan ekonomi yang serba terbatas Indonesia masih mampu memberikan rasa aman di Selat Malaka yang menjadi tanggung jawabnya. Rasa aman inilah yang diharapkan pada akhirnya dapat memperbaiki iklim investasi di Inonesia dan memancing investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia yang pada akhirnya tentu saja dapat menggairahkan kembali perekonomian di Indonesia. Sementara itu, dari segi kebijakan luar negeri dapat dilihat bahwa penempatan pasukan asing dan pelaksanaan operasi khusus didalam wilayah Indonesia bertetangan dengan salah satu prinsip kebijakan luar negeri Indonesia yaitu tidak berpihak atau non blok. Dan yang paling penting adalah bahwa penolakan Indonesia terhadap penempatan pasukan asing di Selat Malaka karena bertentangan dengan hukum internasional dimana didalam UNCLOS sudah diatur tentang negara - negara mana saja yang berwenang dalam mengamankan Selat Malaka.
Alasan atas penolakan hadirnya kekuatan asing dikarenakan akan berpengaruh terhadap kedaulatan negara, hak berdaulat dan yurisdiksi yang merupakan elemen utama dan sama pentingnya dengan kepentingan nasional Indonesia. Upaya mencari dan menemukan metode pendekatan guna menjaga keamanan di Selat Malaka haruslah dengan cara - cara yang tidak memperlemah arti dari kedaulatan itu sendiri. Tidak boleh ada kompromi yang perlu dibuat yang pada akhirnya hanya akan melemahkan kedaulatan ketiga negara yaitu Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

Kajian atas sikap Indonesia terhadap keamanan Selat Malaka memang patut didukung, karena ini menyangkut kehormatan bangsa, namun demikian jika kita melihat banyaknya peluang yang mungkin terjadi jika keamanan selain dilakukan bersama antara Indonesia, Malaysia, dan Singapura juga dilakukan oleh negara-negara lainnya yang juga memiliki kepentingan atas selat Malaka, hal ini dapat menyebabkan munculnya rasa aman bersama yang kelanjutannya adalah hubungan antar negara yang kondusif.

Sebagai contoh adalah adanya keinginan Amerika untuk menempatkan pasukan khusus atau satuan marinir Amerika dalam menjaga keamanan Selat Malaka, yang belakangan sering diganggu oleh aksi perompakan, memang ini jika ditinjau secara mendalam, akan menimbulkan kekhawatiran akan memancing radikalisasi dan militansi di kalangan masyarakat Asia Tenggara yang terkenal moderat. Namun jika kemudian kita kaji kembali, mungkin kekhawatiran ini dapat ditekan dengan cara melibatkan banyak negara dalam rangka pengamanan selat malaka, sehingga Amerika tidak akan melakukan tindakan yang arogan. Peluang lain yang mungkin diperoleh jika kita memberikan peluang keamanan bersama adalah terjaminnya tingkat keamanan di selat Malaka, sehingga jalur ini benar-benar bermanfaat bagi kepentingan negara-negara yang memanfaatkan Selat Malaka. Demikian yang dapat saya sampaikan terkait dengan kajian lingkungan strategis tentang keamanan selat Malaka.

Kepada Yth. Kabadiklat Dephan.
Mohon ijin menyampaikan tulisan ini melalui blog bapak, karena kesulitan dalam penggunaan e-mail. Terima kasih.

Anonim mengatakan...

Yth. Kabadiklat
Mohon ijin terpaksa saya menyampaikan tugas melalui blog Kabadiklat,dikarenakan kesulitan pengiriman melalui email.


KEAMANAN SELAT MALAKA


Pendahuluan
Selat Malaka yang terletak diperairan antara pulau Sumatra dengan semenanjung Malaka, merupakan urat nadi lalu lintas. Perdagangan terpadat didunia,yang menghubungkan Asia Barat dengan Asia Timur,sedikitnya 50.000 kapal dagang berlalu lalang setiap tahun.
Dari segi ekonomi dan strategi, Selat Malaka merupakan salah satu jalur pelayaran terpenting didunia. Selat Malaka membentuk jalur pelayaran terusan antara Samudra Hindia dengan Samudra Pasifik serta menghubungkan tiga dari Negara-negara dengan jumlah penduduk terbesar didunia,yaitu India Indonesia dan China.Sebanyak setengah dari minyak dunia yang diangkut kapal tangker melintas selat ini,jumlah itu diperkirakan mencapai 11 juta barel minyak perhari. Oleh karena lebar Selat Malaka tersebut hanya 1,5 mil laut pada titik tersempit, yaitu selat Philip dekat dengan Singapura, ini merupakan salah satu lokasi yang memungkinkan terjadinya kemacetan lalu lintas terpenting didunia,sehingga kemungkinan besar memberikan peluang kawasan ini menjadi target pembajakan dan tidak menutup kemungkinan menjadikan ancaman yang lebih serius yaitu ancaman terorisme.
Dari keseluruhan selat yang berjumlah 250 selat yang ada didunia, Selat Malaka dikenal sebagai salah satu diantara13 selat paling strategis dan bernilai komersial,yang paling tinggi didunia.Indonesia mengemukakan system pengamanan maritime terpadu atau Integrated Maritime Security System (IMSS) , diselat malaka akan segera dilakukan sehingga pengamanan dibawah perairan ini dapat diwujudkan secara terpadu.

Kerja sama Negara Strategis

Tiga Negara pantai , yaitu Indonesia , Malaysia , Singapura sepakat untuk membentuk Komite Pengamanan bersama Selat Malaka , guna memaksimalkan pengamanan diselat terpadat didunia. Komite Pengamanan bersama ini akan menjadi payung hukum bagi seluruh kerja sama pengamanan diselat sepanjang 500 mil itu akan semakin maksimal.
Frekwensi gangguan serangan pada tahun 2004 diperkirakan meningkat , dibandingkan dengan tahun 1994 terjadi 25 kali serangan , tahun 2000 diperkirakan terjadi kurang lebih 220 serangan , tahun 2003 diperkirakan terjadi kurang lebih 150 serangan , sebagai tanggapan atas krisis ini Angkatan Laut Indonesia , Malaysia dan Singapura, meningkatkan frekwensi patroli dikawasan tersebut.

Pelibatan Negara Lain

Negara Thailand, mengajukan proposal dengan rencana apabila dilaksanakan akan mengurangi pentingnya fungsi Selat Malaka. Dari sudut ekonomi, pemerintah Thailand mengusulkan agar sebuah terusan dibangun yang akan melintasi Tanah Genting Kra, sehingga jarak pelayaran Afrika dan Timur Tengah menuju Pasifik dapat dikurangi sekitar 600 mil. Rencana ini akan memisahkan Thailand menjadi dua bagian, sehingga akan mengasingkan kelompok gerilyawan muslim Pattani.
Alternatif kedua sama dengan usulan dengan Myanmar ,yaitu dengan jalan membangun sebuah pipa saluran disepanjang Tanah Genting , yang akan mengangkut minyak-minyak ke perahu- perahu yang menunggu kesudut lain.
Latar belakang melibatkan Thailand adalah semakin maraknya aksi perampokan ,penyelundupan senjata dan kejahatan laut lainya diwilayah perairan negeri Gajah Putih di Selat Malaka. Keempat Negara tersebut sepakat untuk membuat kelompok kerja untuk menjabarkan langkah-langkah yang harus dikerjakan didepan , sehingga Selat Malaka betul-betul aman bagi yang melintasi perairan tersebut. Keempat Negara tersebut meluncurkan kerja sama pengamanan melaluiudara yang disebut Eyes In The Skey (EIS), guna mendukung patroli terkoordinasi disepanjang Selat Malaka.
Australia dan India, mengajukan rencana untuk berperan serta membantu mengamankan Selat Malaka, karena kedua Negara tersebut mempunyai banyak kepentingan kelancaran pemenuhan kebutuhan perekonomianya. Bentuk dukungan tersebut dapat berupa “ Kerja sama pelatihan untuk meningakatkan kemampuan “.
Amerika, mengajukan usul membantu kawasan Selat Malaka, namun kurang dapat persetujuan ,karena Indonesia dan Malaysia menolak adanya pasukan asing termasuk Amerika untuk mengatur keamanan di Selat Malaka. Negara Pantai menentukan kesejahteraan dan keselamatan di Selat Malaka , bukan Negara lain yang berperan/ berwenang.
China , Perairan Selat Malaka sangat penting bagi China seiring dengan perkembangan perekonomian , juga menjadi pengimport minyak terbesar didunia.

Selat Malaka kini lebih aman

International Maritim Bureu ( IMB ) dalam publikasinya menyebutkan jumlah pembajakan , perampokan periode Januari – Maret 2007 diseluruh dunia turun drastis, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2006.
Namun IMB mencatat , beberapa daerah tetap rawan perompakan ,terutama di Nigeria dan Somalia. Sejak diberlakukanya patroli terkoordinasi tersebut, jumlah perompakan dan penyeranganbersenjata di Selat Malaka turun drastis. Meskipun Selat Malaka dinyatakan aman , namun pengamanan Selat Malaka harus tetap ditingkatkan , karena sangat banyak negara berkepentingan atas Selat Malaka.
Patroli terkoordinasi terbukti lebih efisien mengamankan Selat Malaka, namun potensi kerawanan tetap tinggi sehingga negara-negara pesisir tidak boleh lengah dalam mengamankanya.
Selesai.
Siswa Suspimjemen Han III Letkol Inf. Drs Unir E.N.

Anonim mengatakan...

Yth. Kabadiklat
Mohon ijin terpaksa saya menyampaikan tugas melalui blog Kabadiklat,dikarenakan kesulitan pengiriman melalui email.


KEAMANAN SELAT MALAKA


Pendahuluan
Selat Malaka yang terletak diperairan antara pulau Sumatra dengan semenanjung Malaka, merupakan urat nadi lalu lintas. Perdagangan terpadat didunia,yang menghubungkan Asia Barat dengan Asia Timur,sedikitnya 50.000 kapal dagang berlalu lalang setiap tahun.
Dari segi ekonomi dan strategi, Selat Malaka merupakan salah satu jalur pelayaran terpenting didunia. Selat Malaka membentuk jalur pelayaran terusan antara Samudra Hindia dengan Samudra Pasifik serta menghubungkan tiga dari Negara-negara dengan jumlah penduduk terbesar didunia,yaitu India Indonesia dan China.Sebanyak setengah dari minyak dunia yang diangkut kapal tangker melintas selat ini,jumlah itu diperkirakan mencapai 11 juta barel minyak perhari. Oleh karena lebar Selat Malaka tersebut hanya 1,5 mil laut pada titik tersempit, yaitu selat Philip dekat dengan Singapura, ini merupakan salah satu lokasi yang memungkinkan terjadinya kemacetan lalu lintas terpenting didunia,sehingga kemungkinan besar memberikan peluang kawasan ini menjadi target pembajakan dan tidak menutup kemungkinan menjadikan ancaman yang lebih serius yaitu ancaman terorisme.
Dari keseluruhan selat yang berjumlah 250 selat yang ada didunia, Selat Malaka dikenal sebagai salah satu diantara13 selat paling strategis dan bernilai komersial,yang paling tinggi didunia.Indonesia mengemukakan system pengamanan maritime terpadu atau Integrated Maritime Security System (IMSS) , diselat malaka akan segera dilakukan sehingga pengamanan dibawah perairan ini dapat diwujudkan secara terpadu.

Kerja sama Negara Strategis

Tiga Negara pantai , yaitu Indonesia , Malaysia , Singapura sepakat untuk membentuk Komite Pengamanan bersama Selat Malaka , guna memaksimalkan pengamanan diselat terpadat didunia. Komite Pengamanan bersama ini akan menjadi payung hukum bagi seluruh kerja sama pengamanan diselat sepanjang 500 mil itu akan semakin maksimal.
Frekwensi gangguan serangan pada tahun 2004 diperkirakan meningkat , dibandingkan dengan tahun 1994 terjadi 25 kali serangan , tahun 2000 diperkirakan terjadi kurang lebih 220 serangan , tahun 2003 diperkirakan terjadi kurang lebih 150 serangan , sebagai tanggapan atas krisis ini Angkatan Laut Indonesia , Malaysia dan Singapura, meningkatkan frekwensi patroli dikawasan tersebut.

Pelibatan Negara Lain

Negara Thailand, mengajukan proposal dengan rencana apabila dilaksanakan akan mengurangi pentingnya fungsi Selat Malaka. Dari sudut ekonomi, pemerintah Thailand mengusulkan agar sebuah terusan dibangun yang akan melintasi Tanah Genting Kra, sehingga jarak pelayaran Afrika dan Timur Tengah menuju Pasifik dapat dikurangi sekitar 600 mil. Rencana ini akan memisahkan Thailand menjadi dua bagian, sehingga akan mengasingkan kelompok gerilyawan muslim Pattani.
Alternatif kedua sama dengan usulan dengan Myanmar ,yaitu dengan jalan membangun sebuah pipa saluran disepanjang Tanah Genting , yang akan mengangkut minyak-minyak ke perahu- perahu yang menunggu kesudut lain.
Latar belakang melibatkan Thailand adalah semakin maraknya aksi perampokan ,penyelundupan senjata dan kejahatan laut lainya diwilayah perairan negeri Gajah Putih di Selat Malaka. Keempat Negara tersebut sepakat untuk membuat kelompok kerja untuk menjabarkan langkah-langkah yang harus dikerjakan didepan , sehingga Selat Malaka betul-betul aman bagi yang melintasi perairan tersebut. Keempat Negara tersebut meluncurkan kerja sama pengamanan melaluiudara yang disebut Eyes In The Skey (EIS), guna mendukung patroli terkoordinasi disepanjang Selat Malaka.
Australia dan India, mengajukan rencana untuk berperan serta membantu mengamankan Selat Malaka, karena kedua Negara tersebut mempunyai banyak kepentingan kelancaran pemenuhan kebutuhan perekonomianya. Bentuk dukungan tersebut dapat berupa “ Kerja sama pelatihan untuk meningakatkan kemampuan “.
Amerika, mengajukan usul membantu kawasan Selat Malaka, namun kurang dapat persetujuan ,karena Indonesia dan Malaysia menolak adanya pasukan asing termasuk Amerika untuk mengatur keamanan di Selat Malaka. Negara Pantai menentukan kesejahteraan dan keselamatan di Selat Malaka , bukan Negara lain yang berperan/ berwenang.
China , Perairan Selat Malaka sangat penting bagi China seiring dengan perkembangan perekonomian , juga menjadi pengimport minyak terbesar didunia.

Selat Malaka kini lebih aman

International Maritim Bureu ( IMB ) dalam publikasinya menyebutkan jumlah pembajakan , perampokan periode Januari – Maret 2007 diseluruh dunia turun drastis, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2006.
Namun IMB mencatat , beberapa daerah tetap rawan perompakan ,terutama di Nigeria dan Somalia. Sejak diberlakukanya patroli terkoordinasi tersebut, jumlah perompakan dan penyeranganbersenjata di Selat Malaka turun drastis. Meskipun Selat Malaka dinyatakan aman , namun pengamanan Selat Malaka harus tetap ditingkatkan , karena sangat banyak negara berkepentingan atas Selat Malaka.
Patroli terkoordinasi terbukti lebih efisien mengamankan Selat Malaka, namun potensi kerawanan tetap tinggi sehingga negara-negara pesisir tidak boleh lengah dalam mengamankanya.
Selesai.
Siswa Suspimjemen Han III Letkol Inf. Drs Unir E.N.

Anonim mengatakan...

Kepada Yang terhormat Kabadiklat Dephan.
Mohon ijin menjawab pertanyaan Kabagdiklat melaui Bloger. Tentang Selat Malaka.


PENTINGNYA MENJAGA STABILITAS KEAMANAN DI PERAIRAN SELAT MALAKA

Selat Malaka adalah salah satu selat paling strategis. Selat ini menjadi faktor pendorong bagi pertumbuhan ekonomi dunia. Sekitar seperempat perdagangan dunia, termasuk minyak, melintasi selat ini. Selat ini pun telah lama dikenal sebagai selat yang berbahaya karena sering terjadi 200 kasus perompakan dan tindakan kejahatan lainnya menimpa kapal-kapal dagang yang melewati selat ini. Korban yang paling banyak adalah kapal-kapal yang relatif kecil.Indonesia, Malaysia, dan Singapura dalam upaya mengamankan terhadap keselamatan dan keamanan pelayaran internasional di Selat Malaka sudah dimulai sejak tahun 1971. Waktu itu ketiga negara menandatangani suatu pernyataan bersama yang menegaskan tanggung jawab mereka terhadap keselamatan dan keamanan pelayaran internasional di Selat Malaka. Kesepakatan ini kemudian diikuti oleh kesepakatan lanjutan lainnya, seperti penentuan jenis kapal (maksimum) yang dapat melewati selat, persyaratan kapal, dan alat navigasi.
Masalah utama lahirnya kontroversi siapa yang bertanggung jawab atas keselamatan dan keamanan pelayaran di Selat Malaka. AS berpendirian, terorisme dan kejahatan di perairan internasional adalah ancaman terhadap masyarakat internasional. Dalam hal ini, negara-negara tidak dapat menanggulangi masalah ini sendiri-sendiri. Perlu upaya multinasional atau multilateral untuk menanganinya. Dasar hukum AS ada benarnya. Dalam hukum internasional, perompakan (piracy) dan terorisme tergolong ke dalam kejahatan internasional (international crime). Artinya, yurisdiksi yang berlaku terhadap kejahatan itu adalah yurisdiksi universal atau kewenangan tiap negara yang berkepentingan.
Namun, yurisdiksi terhadap perompakan dan terorisme di selat Malaka tidak dapat digolongkan sebagai yurisdiksi universal. Yurisdiksi universal terhadap perompakan atau terorisme di wilayah laut hanya berlaku di perairan internasional, khususnya di laut lepas. Status Selat Malaka adalah selat yang digunakan untuk pelayaran internasional (strait used for international navigation). Karena itu, posisi RI dan Malaysia yang menyatakan bahwa Selat Malaka berada pada tanggung jawab atau kewenangan (yurisdiksi) negara pantai adalah tepat. Menurut hukum internasional, kewenangan negara atas pantai akan terkait di dalamnya tanggung jawab negara tersebut atas keselamatan dan keamanan berlayar di perairannya.Tanggung jawab menurut hukum internasional memiliki makna penting. Suatu negara yang memiliki tanggung jawab, dalam hal ini RI, memiliki kewajiban untuk melaksanakan tanggung jawab itu. Artinya, kelalaian atau kegagalan untuk melaksanakan tanggung jawab akan melahirkan pertanggungjawaban internasional. Kelalaian atau kegagalan itu adalah kelalaian atau kegagalan RI menjaga atau memelihara keamanan dan keselamatan pelayaran internasional di Selat Malaka.
Di sisi lain, tampak adanya tanggung jawab RI di Selat Malaka. Kita maklumi, Angkatan Laut RI belum maksimal. Maraknya kasus pencurian ikan, misalnya, adalah salah satu hal yang dapat memberi gambaran betapa sulitnya menjaga keamanan di perairan Indonesia.
Dengan banyaknya kasus kejahatan atas kapal-kapal yang berlayar di sekitar Selat Malaka, tidak tertutup kemungkinan akan timbul gugatan atau tekanan terhadap negara pantai, termasuk RI, untuk menjamin keselamatan dan keamanan pelayaran di Selat Malaka.
Untuk mengurangi tanggung jawab internasional ini sebenarnya RI dapat memperkuat prinsip sharing responsibility atau tanggung jawab renteng atas Selat Malaka. Selama ini memang prinsip ini telah dilaksanakan sejak tahun 1971 dengan Malaysia dan Singapura. Namun, selama ini pula prinsip tersebut ternyata tidak menyusutkan angka kejahatan di Selat Malaka. Prinsip sharing responsibility tampaknya perlu ditingkatkan.

Adis banjere

Suspimjemenhan